"Kami memang tidak mendirikan posko-posko kesehatan, terutama di jalur-jalur lalu lintas, untuk antisipasi kejadian luar biasa atau kecelakaan lalu lintas kami lebih mengoptimalkan fungsi fasilitas kesehatan (faskes) maupun puskesmas," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini, Minggu.
Menurut dia, posko kesehatan di luar dinilai kurang efisien dan kurang optimal dalam menangani kejadian luar biasa.
"Terutama dalam kesiapan para medis dan perlengkapannya, selain itu juga terkait masalah higienisitasnya," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, seperti rumah sakit, klinik, dan puskesmas termasuk kesiapan sarana ambulans.
"Kami sudah instruksikan semua fasilitas kesehatan untuk siap siaga, sejak 22 Desember 2016 sampai 4 Januari 2017," katanya.
Mafilindati mengatakan, selama periode 24 hingga 27 Desember 2016, dan 31 Desember 2016 hingga 2 Januari 2017, layanan puskesmas juga buka 24 jam baik untuk pertolongan pertama pada korban kecelakaan maupun penderita penyakit.
"Ibu bersalin juga menjadi salah satu fokus perhatian. Untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi, kami telah melakukan identifikasi bayi yang diperkirakan lahir 24 Desember 2016 sampai 2 Januari 2017. Ada 325 ibu hamil, sebanyak 83 ibu hamil diantaranya memiliki faktor risiko, dan delapan orang disertai komplikasi. Ini harus diantisipasi agar tidak terjadi kasus kematian ibu atau bayi. Kami juga selalu berkoordinasi dengan rumah sakit terutama yang sudah memiliki pelayanan obstetri neonatal emergency komprehensif atau PONEK," katanya.
Ia mengatakan, saat ini sudah banyak rumah sakit yang menerapkan PONEK tapi belum maksimal.
"Kesiapan ini diukur dari pelayanannya emergency obstetri neonatal sepanjang 24 jam sehari, dan tujuh hari seminggu. Selain itu harus ada dokter spesialis anestesi, dokter obsgyn, dan spesialis anak yang standby," katanya.
Ia mengatakan, disamping masalah persalinan, hal lain yang perlu diwaspadai adalah potensi kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan. Jika ditemukan kasus tersebut, masyarakat diminta segera menghubungi petugas medis terdekat.
"Demikian halnya jika mendapati penyakit yang potensial menjadi wabah seperti tetanus, campak, dipteri, kolera, diare, meningitis, dan flu burung," katanya. ***4***
(V001)
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Baca lagi lanjutan nya http://ift.tt/2igdlCvBagikan Berita Ini
0 Response to "Dinkes Sleman optimalkan puskesmas dan faskes"
Post a Comment