"Kendalanya itu SDM (sumber daya manusia), karena saat ini pembatiknya hampir semuanya sudah lanjut usia dan juga punya kesibukan masing-masing di rumah," kata Ketua Paguyuban Batik Nitik Desa Trimulyo, Iswanto di Bantul, Kamis.
Menurut dia, karena kendala tersebut, produksi batik nitik tidak maksimal dan hanya disesuaikan dengan kemampuan dan waktu yang dimiliki pembatik.
"Perlu ada regenerasi pembatik itu sendiri, misalnya yang muda-mudi juga diajak untuk menggeluti batik, namun mayoritas mereka tidak minat, karena kendala upah yang diterima," katanya.
Ia mengatakan, upah baru diberikan ke perajin ketika produksi kerajinan batik sudah setengah jadi, sementara untuk membatik pada selembar kain dengan proses "nitik" sesuai motif membutuhkan waktu paling cepat tiga pekan.
"Upah diberlakukan sistem borongan per lembar kain. Kain biasanya berukuran 2,5 meter persegi. Upah yang diberikan Rp300.000 sampai Rp350.000 tergantung motif, dan itu dikerjakan sekitar tiga minggu sampai satu bulan," katanya.
Ia mengatakan, lamanya proses pembuatan batik itu karena selain membutuhkan ketelitian juga ketekunan untuk menghasilkan "nitik" sesuai pola, sehingga mayoritas kegiatan membatik dilaksanakan di rumah masing-masing.
Iswanto mengatakan, Paguyuban Batik Nitik Desa Trimulyo saat ini mewadahi sekaligus memberdayakan 20 perajin yang semuanya merupakan ibu rumah tangga yang merupakan warga setempat.
"Paguyuban terbentuk setelah gempa (2006), namun kalau perajin batiknya sudah lama ada, karena turun-temurun sejak simbah-simbah. Semuanya rata-rata nitik, justru selain nitik tidak bisa," katanya. ***1***
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2016
Baca lagi lanjutan nya http://ift.tt/2gJR6qEBagikan Berita Ini
0 Response to "Produksi kerajinan batik nitik Bantul terkendala SDM"
Post a Comment