"Dari 20 titik kerusakan, kami mengusulkan lima titik agar bisa dibantu perbaikan oleh Pemerintah DIY dan satu titik diusulkan untuk ditangani oleh Balai Besar Wilayah Serayu-Opak," kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta Aki Lukman di Yogyakarta, Senin.
Kelima titik yang diusulkan agar ditangani oleh Pemerintah DIY adalah di Jlagran, di Tegalpanggung, di belakang SD Karangmulyo Kotagede, di Jetisharjo, dan satu titik di Sungai Winongo.
Menurut Aki, kerusakan di kelima titik tersebut cukup besar dan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Salah satunya adalah kerusakan talud di belakang SD Karangmulyo Kotagede sepanjang 40 meter dengan tinggi sekitar 10 meter.
Sedangkan satu titik yang diusulkan agar ditangani oleh Balai Besar Wilayah Serayu-Opak (BBWSO) berada di Tegalrejo karena kerusakan berada di belakang permukiman dan langsung mengenai tebing sungai.
Jika seluruh kerusakan tersebut harus ditangani oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, maka dibutuhkan dana sekitar Rp8 miliar. Sedangkan untuk 14 titik yang akan ditangani oleh Pemerintah Kota Yogyakarta membutuhkan dana sekitar Rp3,4 miliar.
Meskipun demikian, lanjut Aki, Pemerintah Kota Yogyakarta tidak dapat melakukan perbaikan secara permanen pada tahun ini karena tahun anggaran sudah akan berakhir dan tidak ada lagi dana yang bisa digunakan.
"Anggaran 2018 juga sudah ditetapkan. Oleh karena itu, perlu ada revisi atau penggeseran penggunaan dana terlebih dulu baru dilakukan perencanaan dan lelang pekerjaan. Kami belum dapat memastikan waktu perbaikannya. Namun tetap diupayakan secepatnya," kata Aki.
Sementara itu, masa tanggap darurat siklon tropis Cempaka di Kota Yogyakarta akan berakhir pada Selasa (5/12). "Seluruh data kerusakan ini akan kami sampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta," kata Aki.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kota Yogyakarta Agus Winarto mengatakan, penanganan terhadap kerusakan talud permukiman selama masa tanggap darurat dilakukan dengan menutup lokasi longsor menggunakan terpal dan menguatkan tebing sungai dengan karung berisi pasir.
"Kondisi sudah bisa teratasi. Pembersihan lokasi longsor atau talud yang rusak juga sudah dilakukan. Seluruh lokasi terdampak sudah bersih dan menunggu pembangunan fisik," katanya.
Meskipun penanganan awal sudah dilakukan, namun Agus memastikan bahwa BPBD Kota Yogyakarta tetap siaga terhadap berbagai potensi kerusakan susulan, termasuk kerusakan rumah warga.
Berdasakran data BPBD Kota Yogyakarta, terdapat enam rumah warga yang rusak akibat longsor yang tersebar di beberapa lokasi seperti Juminahan, Gambiran dan Bumijo.
Sedangkan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kota Yogyakarta Bedjo Suwarno mengatakan, logistik untuk pengungsi tetap diberikan hingga berakhirnya masa tanggap darurat. "Kami hanya memberikan bantuan logistik saja, tidak memberikan bantuan untuk perbaikan fisik misalnya perbaikan rumah warga. Sampai saat ini, stok bahan makanan juga masih mencukupi," katanya. ***3***
(E013)
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Yogyakarta akan tangani 14 titik kerusakan talud"
Post a Comment