
Buku yang ditulis Evy Amir Syamsudin yang mengabadikan dan menuangkannya dalam kisah-kisah yang menggetarkan hati ini telah diluncurkan di Djakarta Theater.
Dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat, Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (DitjenPAS) Sri Puguh Budi Utami yang turut hadir dalam peluncuran buku "Made In Prison" mengatakan hal menarik dari buku ini adalah mengenalkan sosok-sosok di balik karya unggulan warga binaan pemasyarakatan yang menginspiratif.
"Buku ini menggambarkan cerita-cerita poitif para WBP di balik karya tersebut baik sedih, lucu dan mengharukan yang membuat pembaca bisa berempati dan mengubah stigma buruk pada kehidupan di balik tembok jeruji Lapas," ungkap Utami.
"Made In Prison" menjadi wadah bercerita Evy mengenalkan produktivitas dan hasil kreasi narapidana dalam kondisi serba terbatas.
Mengisahkan lebih dalam tentang hasil karya unggulan narapidana disertai kisah-kisah kehidupan narapidana setelah sebelumnya di buku pertamanaya "Voice of Voiceless" pada 2015.
"Sungguh mengharukan melihat para warga binaan mampu menghasilkan karya yang luar biasa sebagai bagian dari upaya mereka memperbaiki kesalahan masa lalu sehingga menjadi manusia yang lebih baik hari ini," tutur Evy.
Pada acara peluncuran buku Jumat malam, turut pula menghadirkan penampilan kelompok seni rampak bedug warga binaan pemasyarakatan perempuan dari Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Tangerang dan seni tari persembahan dari warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Pondok Bambu (Jakarta Timur).
Keduanya akan bekerja sama apik menghibur undangan bersama dengan Band asal Italia Vinicio Capossela Trio.
"Hadir dalam peluncuran buku ini rampak bedug dari WBP dari Lapas Perempuan Tangerang dan kesenian tari dari WBP Lapas Perempuan Jakarta Timur," terang Sekretaris DitjenPAS.
Ia menyatakan bahwa penampilan kelompok seni dari Lapas ini membuktikan bahwa tak hanya keterampilan, namun juga pendidikan dan bidang kesenian tak luput dari konsentrasi pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan negara.
"Seni, kreativitas dan pendidikan yang positif harus tetap dikembangkan. Banyak sumber daya manusia usia produktif di dalam lapas dan rutan. Tembok Jeruji tidak harus membelenggu kemauan untuk berkembang dan berubah menjadi lebih baik," tegasnya.
Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dengan semangat membangun produktivitas WBP mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama mendukung pembinaan usia produktif di dalam lapas dan rutan, membentuk sumber daya manusia yang berkualitas sehingga tak lagi dipandang sebelah mata dan dapat turut serta berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Baca lagi lanjutan nya http://ift.tt/2HhYpiYBagikan Berita Ini
0 Response to ""Made in Prison" mengubah stigma buruk kehidupan lapas"
Post a Comment