"Kami sudah melakukan uji pencemaran sungai dengan metode biotilik bersama Kelompok Studi Entomologi Fakultas Biologi UGM pada 2015. Pencemaran terlihat jelas meskipun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta menyatakan pencemaran masih sedang," kata Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) Endang Rohjiani di Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia titik pencemaran tertinggi berada di sekitar Jembatan Peta hingga ke selatan dengan sumber pencemaran berbagai jenis limbah yang berasal dari peternakan babi, sapi, hingga pabrik tahu.
Sedangkan di wilayah Tamansari, sumber pencemaran berasal dari limbah industri batik yang banyak berada di kawasan tersebut, serta dari limbah rumah tangga yang tidak terolah sempurna karena instalasi pengeolahan air limbah (IPAL) komunal rusak.
"Kondisi IPAL komunal yang tidak mampu mengolah limbah dengan baik ini harus menjadi perhatian bersama karena jumlahnya cukup banyak yaitu 28 IPAL di Kota Yogyakarta," katanya.
Namun demikian, lanjut dia, proses perbaikan IPAL komunal tersebut tidak dapat dilakukan karena terjadi perubahan pengelolaan dari sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup sebagai pihak yang membangun ke Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman.
"Solusinya adalah memberikan edukasi ke masyarakat untuk bisa memelihara IPAL agar kondisinya selalu baik," katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi DIY Halik Sandera mengatakan, akan melakukan pemantauan kualitas air Sungai Winongo dengan metode biotilik melibatkan masyarakat dan sekolah pada Minggu, 1 Oktober.
"Pemantauan dilakukan dengan mencari hewan atau organisme invertebrata yang ada di sungai. Keberadaan hewan tersebut bisa menjadi indikator untuk mengetahui kualitas air sungai di suatu wilayah," katanya.
(E013)
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Baca lagi lanjutan nya http://ift.tt/2xFLyG9Bagikan Berita Ini
0 Response to "FKWA sebut limbah cemari Sungai Winongo Yogyakarta"
Post a Comment