Setiap tahun, delapan kecamatan dari 18 kecamatan dapat dipastikan mengalami krisis air bersih. Kecamatan tersebut meliputi, Rongkop, Paliyan, Panggang, Girisubo, Purwosari, Tepus, Tanjungsari dan Nglipar. Di Gunung Kidul, dari 144 desa, sebanyak 132 desa diantaranya rawan bencana.
Selain itu, 10 kecamatan lain juga mengalami krisis air, tapi tidak separah delapan kecamatan tersebut. Hal ini dikarenakan 10 kecamatan, seperti Wonosari, Ngawen, Gedangsari, Paliyan, dan Saptosari memiliki sumber air yang dikelola dengan baik sehingga dapat menenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Gunung Kidul Sutaryono menyebutkan, dari 18 kecamatah di Gunung Kidul, ada 37.103 kepala keluarga atau 132.681 jiwa mengalami kesulitan air bersih pada musim kemarau kali ini.
Setiap hari BPBD Gunung Kidul melaksanakan penyaluran hingga 28 tangki, dengan total sampai saat ini sudah ada 750 tangki air yang disalurkan pemerintah secara gratis kepada masyarakat. Tahun ini, anggaran droping air bersih sebesar Rp600 juta,
Warga yang berada di daerah sulit air bisa ditangani. Sasaran penyaluran ini sudah dikoordinasikan mulai dari dusun, desa, kecamatan hingga sampai ke BPBD. Warga yang menginginkan bantuan air bersih bisa melakukan koordinasi dengan desa untuk diberikan air.
Seperti diketahui, di Gunung Kidul atau dikenal slogannya "Handayani" merupakan wilayah yang memiliki bentangan batu karts, sehingga sumber mata air berada di bawah tanah. Lebih dari 10 titik aliran sungai bawah tanah, namun belum dioptimalkan karena terkendala anggaran.
Pada dasarnya, persoalan air bersih dapat diatasi, bila ada sinergi antara pemerintah pusat hingga kabupaten dengan memanfaatkan teknologi mengangkat sumber mata air bawah tanah.
Masyarakat meyakini, Gunung Kidul menjadi sumber mata air bagi warga DIY. Sumber mata air bawah tanah diangkat, dialirkan ke seluruh penjuru wilayah DIY. Namun, ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak. Namun demikian, hal yang dibutuhkan komitmen kebijakan dan semangat gotong royong untuk rakyat.
Perbaikan layanan
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani Kabupaten Gunung Kidul melakukan perbaikan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya dengan menyelesaikan pemasangan 1.166 sambungan rumah (SR) baru untuk keluarga berpenghasilan rendah.
Dengan selesainyanya SR kepada 1.166 warga berpenghasilan rendah ini nantinya PDAM akan menerima hibah dari pemerintah pusat sebanyak Rp3,5 miliar lagi. Sebab, salah satu penerima hibah harus menyelesaikan hal tersebut.
Dalam tiga tahun mulai 2015 hingga 2017, PDAM menerima hibah Rp10,5 miliar, yang setiap tahun dicairkan dana Rp3,5 miliar. Bantuan tersebut banyak masyarakat yang mengajukan pemohonan. Setiap tahun sekitar 2.000 KK yang mengajukan sambungan. Untuk itu, pihaknya melakukan seleksi dan juga verifikasi untuk kelayakan menerima bantuan. Hal ini dikarenakan bantuan ini khsusus masyarakat kurang mampu.
Direktur PDAM Tirta Handayani Isnawan Fibriyanto mengatakan pihaknya melakukan perbaikan sarana dan prasarana yang ada selama ini masih menggunakan pipa asbes. PDAM Tirta Handayani hanya satu-satunya PDAM yang menggunakan pipa tersebut. Untuk tahap awal perbaikan, pihaknya mendapatkan bantuan dari Satuan Kerja (Satker) Peningkatan Kinerja Penyediaan Air Minum (PK Pam) DIY sepanjang 600 meter pipa.
Seluruh anggaran perbaikan tersebut wewenang dari PK Pam. Perbaikan ini belum menyasar seluruh pipa yang belum diganti. Yang diganti baru 600 meter saja, sedang berdasarkan data di lapangan, yang butuh perbaikan sepanjang empat kilometer.
Untuk perbaikan wilayah perkotaan yang sudah dirancang sejak 2014 lalu, di mana perbaikan empat km peremajaan pipa asbes yang diganti dengan pipa pvc atau besi membutuhkan dana sekitar Rp10 miliar.
"Dananya cukup besar, kalau kami jelas tidak bisa melakukan perbaikan sendiri," katanya.
PDAM Tirta Handayani memerlukan bantuan baik Pemkab Gunung Kidul, Satker PK Pam dan pemerintah pusat untuk membantu perbaikan. Sebab, dengan pipa yang sudah berusia puluhan tahun dan terbuat dari asbes seringkali rusak.
"Untuk perbaikan selama ini memang perbaikan hanya sebatas penutupan bocor, dan kami mohon maaf kalau setiap hari ada perbaikan sehingga pelayanan air jadi kurang lancar. Perbaikan 600 meter diharapkan mengurangi kebocoran," katanya.
Selain itu, PDAM Tirta Handayani akan memperluas jaringan dan menargetkan seluruh wilayah 2019 untuk mewujudkan pelayanan 100 persen air bersih.
Pelayanan air bersih di Kabupaten Gunung Kidul sampai saat ini mencapai 69 persen dari seluruh penduduk. Saat ini penyaluran air bersih menggunakan metode sistem pipanisasi melalui PDAM dan spamdes. Sedang untuk penyaluran non-pipa dilakukan dengan jalan dropping air.
Saat ini pihaknya akan melakukan optimalisasi sumber mata air yang ada di Kabupaten Gunung Kidul. Adapun sumber air yang dioptimalkan yakni sumber Bribin akan ditambah pemanfaatanya dari awalnya 80 liter per detik menjadi 120 liter per detik.
Isnawan mengatakan pemanfaatan sumber mata air yang cukup banyak di Kabupaten Gunung Kidul. Sampai saat ini, pemkab belum melakukan kajian mengenai air kemasan seperti yang dibuat wilayah lain misalnya Bantul dan Kulon Progo. Meski diakuinya pengemasan air minum ini biayanya cukup murah.
"Dengan biaya Rp200 juta sebenarnya bisa memproduksi (air dalam kemasan), tetapi kesulitannya proses pemasaran. Maka kita fokus membantu merealisasikan target pemerintah pusat untuk pelayanan air bersih kepada seluruh masyarakat di 2019 mendatang," katanya.
Pelayanan air bersih
Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul mengklaim 84 persen masyarakat sudah mendapatkan pelayanan air bersih baik dari PDAM, SPAMdes, dan sumber air mandiri. Meski demikian, pemerintah masih mengalami permasalah dalam penyaluran air bersih kepada masyarakat.
Bupati Gunung Kidul Badingah bertekad mewujudkan mimpi 100 persen air bersih di Gunung Kidul Mungkinkah. Berdasarkan data, 2015 sudah ada total 84 persen masyarakat yang terlayani air bersih, adapun diantaranya berasal dari PDAM 51 persen, Spamdes 21 persen, dan mandiri 12 persen.
"Dari data total sudah 84 persen masyarakat yang mendapatkan pelayanan air bersih," katanya.
Badingah mengakui potensi air tanah di Kabupaten Gunung Kidul cukup besar seperti sungai bawah tanah Bribin jika musim penghujan debitnya mencapai 2.000 liter per detik, saat musim kemarau 800 liter per detik dengan pemanfaatan 80 liter/detik; Serapan potensi saat musim penghujan 1.800 liter/detik, musim kemarau 750 liter/detik, dan pemanfaatannya 140 liter/detik.
Selanjutnya, Baron dengan potensi musim penghujan 1.000 liter perdetik, debit musim kemarau 400 liter/detik baru dimanfaatkan 115 liter/detik; Dan Ngobaran saat musim hujan 300 liter/detik, musim kemarau 120 liter/detik dan pemanfaatannya 80 liter/detik.
Pemkab Gunung Kidul masih menghadapi kendala seperti masih banyak potensi sumber air belum dimanfaatkan secara maksimal.
Selain itu kendala pemanfaatan air lainnya, kualitas air minum, keberlajutan suplau air bersih ke masyarakat, kondisi geografis pemukiman masyarakar, dan keterbatasan anggaran APBD efek rasionalisasi Rp203 miliar oleh pemerintah.
"Kami sudah menyusun rencana induk melalui rispam 2013, dan telah ditetapkan kebijakan dan strategi pengembangan sistem penyedia air minum Kabupaten Gunung Kidul," katanya.
Badingah optimistis dengan strategi yang dilakukan mulai sistem perpipaan PDAM, Spamdes, sistem panen air hujan, droping air, dan konservasi sumber air, target 100 persen masyarakat terlayani air bersih di Indonesia tercapai.
Sementara Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi menambahkan, apa yang sudah ditetapkan rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) target penyediaan akses air minum 100 persen pada 2019 bisa dilaksanakan. Sebab, sinergitas antara pemerintah pusat, daerah dan masyarakat sudah terjalin sangat baik di Kabupaten Gunung Kidul.
Pemerintah pusat menargetkan, pemerintah daerah melaksanakan dengan bersinergi dengan masyarakat, maka optimistis bisa tercukupi.
Menurut dia sinergitas pemerintah daerah dengan masyarakat yang diwujudkan melalui Pam Swakarya yang berdiri sejak lama yang tidak dimiliki daerah lain
""Kebijakan pemerintah didukung oleh masyarakat melalui Pam swakarsa. Pam swakarsa diluar sistem pemerintahan tetapi kontribusinya luar biasa," katanya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul berupaya mencari sumber mata air baru untuk mengatasi kekeringan guna memperluas cakupan pelayanan air bersih.
Setiap tahun, pemkab berusaha mencari solusi terkait masalah kekeringan yang terus terjadi. Sumber air baru terus kita cari, termasuk terbuka bagi pihak swasta untuk mengembangkan teknologi pengubah air laut menjadi tawar (desalisasi).
Diakuinya, pemkab terkendala anggaran untuk pemanfaatan teknologi tepat guna seperti desalinasi.
"Kami akan sangat menyambut jika ada pihak swasta yang mau mengembangkan teknologi tersebut (Desalisasi). Kalau ada yang mau, pasti akan didukung," katanya.
(U.KR-STR)
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Baca lagi lanjutan nya http://ift.tt/2wIJYnfBagikan Berita Ini
0 Response to "Menanti pelayanan air bersih di Bumi Handayani"
Post a Comment