"Setelah masalah relokasi warga terdampak bandara selesai, kami akan mendiskusikan dengan investor atau pemilik penambangan pasir besi. Kami akan menanyakan perkembangannya bagaimana," kata Hasto di Kulon Progo, Selasa.
Ia berharap lahan yang telah dibebaskan PT JMI yang rencana akan ditambang dan didirikan pabrik tidak mangkrak. Dirinya sangat menyayangkan apabila hal itu terjadi.
"Hal yang terpenting, jangan sampai lahan yang dibebaskan mangkrak. Seharusnya bermanfaat bagi masyarakat," katanya.
Menurut dia, tata ruang yang sedang disusun Dinas Pertanahan dan Tata Ruang masih berada di Karangwuni sampai Trisik. Investor sudah membeli tanah di Desa Karangwuni, Wates untuk lokasi pabrik.
"Sejauh ini belum ada tanda-tanda akan membangun pabrik. Apakah akan membangun pabrik atau tidak, kami juga belum tahu. Kami masih fokus pada bandara," katanya.
Anggota Badan Anggaran DPRD Kulon Progo Hamam Cahyadi mengatakan berdasarkan dokumen analisa dampak lingkungan hingga dokumen yang dibuat PT JMI, penambangan pasir besi dapat menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) berkisar Rp100 miliar hingga Rp150 miliar per tahun selama 20 sampai 25 tahun.
Meski demikian, Hamam mengusulkan pemkab membiarkan begitu saja. Pemkab sebaiknya mencari sumber pendapatan lain.
"Saat ini, lahan yang sudah dibebaskan PT JMI masih ditanami hortikultura warga sekitar. Selain itu, warga sudah tenang, tidak ada konflik lagi. Kalau pasirnya ditambang, kondisi Kulon Progo tidak kondusif," katanya.
(U.KR-STR)
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Baca lagi lanjutan nya http://ift.tt/2fINVNTBagikan Berita Ini
0 Response to "Bupati Hasto panggil investor pasir besi JMI"
Post a Comment